Sampai kapanpun monyet memang tak akan bisa menyelesaikan soal-soal matematika di kelas, namun setidaknya primata tersebut mengenal dasar matematika. Penelitian yang dilakukan di Universitas Duke, AS, memperlihatkan bahwa hewan yang diyakini memiliki kekerabatan dekat dengan manusia itu memiliki mental atau cara berpikir matematis seperti manusia.Para ilmuwan di sana menguji kemampuan dua ekor monyet rhesus dan 14 orang mahasiswa saat menghadapi persoalan matematika sederhana yakni menghitung jumlah bulatan/ titik. Kepada masing-masing dihadapkan gambar beberapa bulatan di layar yang hanya muncul dalam setengah detik dan diulang dengan jumlah bulatan berbeda beberapa saat kemudian.
Kemudian, sekali lagi muncul dua kumpulan bulatan di layar yang salah satunya merupakan hasil penjumlahan bulatan-bulatan yang diperlihatkan pada dua sesi sebelumnya. Baik monyet maupun mahasiswa diminta memilih jumlah bulatan yang tepat. Jika benar, monyet memperoleh satu kaleng minuman ringan sedangkan mahasiwa memperoleh uang.
"Saat saya pertama kali melatih monyet-monyet tersebut operasi penambahan ini, saya berpikir bakal menunggu beberapa minggu sampai mereka paham maksudnya," ujar Jessica Cantlon, seorang ahli ilmu otak dari Duke. Nyatanya pada tahap awal, monyet langsung memperlihatkan kemampuan sangat baik sehingga Cantlon tak perlu melatih sedikit demi sedikit, dari masalah yang mudah hingga kompleks.
Hasil tes juga mengejutkan. Meski belasan mahasiwa tetap lebih baik daripada monyet-monyet tersebut, nilainya tang terpaut jauh, rata-rata 94 persen untuk mahasiswa dan 76 persen untuk monyet.
Hal tersebut menunjukkan bahwa monyet memiliki dasar matematika yang mirip manusia. Mereka sama-sama memikirkan cara menambah dua objek dengan cara yang sama.
"Mereka menggunakan proses mental estimasi yang sama," ujar Cantlon. Temuan ini penting untuk mempelajari bagaimana kemampuan matematika pada manusia pertama kali muncul dan berkembang hingga sangat sempurna saat ini.
Monyet dan manusia diyakini memiliki kekerabatan dekat dan berasal dari jalur evolusi yang sama seperti halnya simpanse dan primata lainnya. Jika jalur evolusi simpanse diperkirakan terpisah dari manusia sejak 7 juta tahun lalu, monyet sudah terpisah sejak 25 juta tahun lalu.
Bagi monyet, kemampuan menghitung mungkin berguna untuk memilih mangsa atau jumlah makanan yang lebih banyak. Bagi manusia, operais matematika sudah menjadi bagian peradaban.
Kemampuan matematika pada manusia yang tak tertandingi makhluk lain di muka Bumi mungkin hasil evolusi. Cantlon dan timnya akan mempelajari lebih lanjut apakah cara berpikir yang ditunjukkan monyet merupakan dasar berkembangnya cara berpikir matematika pada anak-anak untuk menncari petunjuk lainnya
Label: Berita Teknologi, Saint
Bibit badai tropis diperkirakan akan segera terbentuk di bagian barat laut Australia atau di selatan Bali-Nusa Tenggara. Hujan dengan intensitas tinggi dan angin kecang seperti terjadi di beberapa daerah belakangan ini masih akan terulang dalam dua bulan ke depan."Hari ini , tekanan di titik itu sangat rendah yakni 990 milibar dari normalnya 1.004 hingga 1.005 milibar, selisih 15 milibar itu besar sekali, ini akan segera menjadi bibit badai tropis," kata pakar meteorologi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) Dr. Edvin Aldrian di Jakarta, seperti dilaporkan Antara.
Karena tekanan di barat laut Australia sangat rendah sejak beberapa hari terakhir, maka massa udara dari berbagai tempat mengalir ke arah tersebut dan membuat Jawa menjadi tempat berkumpulnya awan (intertropical convergence zone).
"Di atas Jakarta, Banten dan Jawa Barat kita bisa melihat awan tebal berlari kencang ke arah Barat laut Australia, dan sayangnya jatuh di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga di kawasan ini terjadi banjir dan longsor," katanya. Sumatera yang pada November sudah mengalami banjir dan longsor, kini diuntungkan dengan udara yang lebih kering, karena semua awan lari ke Jawa.
Hingga Maret
Mulai tumbuhnya siklon ini membuat kejadian banjir dan longsor di Jawa menjadi lebih lama lagi. Ini bahaya bagi daerah pegunungan tinggi dan terjal di selatan Jawa karena risiko hujan akan semakin tinggi.
Sementara itu, menurut Achmad Zakir, Kepala Sub Bidang Informasi Meteorologi BMG, bulan Desember ini memang masanya terjadi badai tropis di belahan Bumi selatan. Musim badai akan berlangsung hingga Maret-April.
"Setiap tahun, lokasi tumbuhnya badai berbeda-beda, bisa saja di selatan Papua New Guinea, selatan Teluk Carpentaria, selatan Timor, selatan Bali, atau selatan Jawa," kata Zakir saat dihubungi Kompas.com, Jumat (28/12) sore.
Tumbuhnya badai dapat memicu terjadinya cuaca ekstrim yang dirasakan sebagai curah hujan tinggi dan angin kencang. "Cuaca ektrim seperti kemarin berpeluang terulang kembali dalam dua bulan mendatang," katanya.
Namun, tanpa adanya badai tropis sekalipun, angin kecang, hujan lebat, dan gelombang tinggi tetap berpeluang terjadi di wilayah Indonesia. Hal itu dipicu berembusnya angin muson barat dari Pasifik ke Australia antara Desmeber-April yang membawa massa uap air dalam jumlah besar.
"Yang namanya hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi masih berpeluang terjadi di Laut Jawa, Flores, barat Sumatera. Hujan dan angin kencang berpeluang terjadi di Jawa bagian barat, Jawa Tengah bagian selatan, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara," ujar Zakir. Kekuatan angin muson barat ini berfluktuasi dalam hitungan minggu hingga bulan.
Sumber : Kompas
Label: artikel, Berita Teknologi, Info Diploma, Info TKJ, KKPI, Kurikulum