Anda mahasiswa, punya minat besar dalam mengembangkan perangkat software (piranti lunak) komputer, tetapi tidak punya fasilitas, peralatan, atau panduan memadai untuk mewujudkan minat itu? Anda terkungkung oleh keterbatasan dan merasa sendirian? Kalau asa belum pupus, cobalah bergabung dengan Microsoft Innovation Center (MIC).

Lembaga itu merupakan fasilitas lab di kampus yang disponsori Microsoft, perusahaan pengembang piranti lunak, serta penyedia perangkat keras. Mahasiswa yang menjadi anggota tidak dipungut biaya. Keanggotaannya juga terbuka bagi siapa saja yang berminat mengembangkan software komputer.

Sayang, saat ini, MIC baru ada di ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) Surabaya, ITB (Institut Teknologi Bandung) Bandung, UI (Universitas Indonesia) Depok, dan UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta. Namun mahasiswa lain (dari luar ITS, UGM, UI, dan ITB) di empat kota tersebut diterima jika ingin bergabung. Di MIC UGM Yogyakarta misalnya, meski letak MIC di kampus UGM, anggotanya tidak hanya mahasiswa UGM. Beberapa anggota berasal dari univarsitas lain, seperti dari Universitas Atmajaya.

"Sifat keanggotaan terbuka dan kita memang berharap mahasiswa dari kampus-kampus lain bisa bergabung. Di UI Depok misalnya, kita berharap mahasiswa informatika dari kampus-kampus lain di sekitar UI bisa ikut bergabung," kata Zeddy Iskandar, academic developer evegelist Microsoft Indonesia di Yogyakarta awal Desember.

Program MIC di Indonesia dimulai tahun 2007. Di negara lain, seperti Cina, program itu sudah lebih dulu dijalankan dan berkembang pesat. Tahun 2008, kata Zeddy, Microsoft menjajagi kemungkinan membuka MIC di kampus-kampus di luar Jawa. Yang sudah masuk dalam daftar yaitu kampus Udayana, Denpasar, Bali serta satu kampus lagi di wilayah Sumatra.

MIC merupakan bagian dari program Microsoft yang bertujuan untuk merangsang dan memfasilitasi munculnya inovasi-inovasi baru, terutama dari dunia kampus, di bidang produk piranti lunak.

Selain fokus pada inovasi produk, Public Relations Manager Microsoft Indonesia, Mona Monika, mengatakan, MIC juga mengadakan pelatihan aplikasi teknologi terkini dan kursus manajemen bisnis dan marketing; serta bekerja sama dengan industri dan perusahaan pengembang piranti lunak.

Kerja sama dengan industri lebih pada menjembatani dunia industri dengan dunia kampus. Bentuknya antara lain, pelaku industri saat berkunjung ke MIC bisa merekrut langsung calon kayarwan yang mereka butuhkan atau mengkomunikasikan tren dan kebutuhan dunia industri. Zeddy Iskandar mengemukakan, sejumlah anggota MIC di UGM dan ITB telah direkrut langsung perusahaan pengembang piranti lunak saat berkunjung ke MIC.

Meski semuanya berfokus pada inovasi, kerjasama dengan industri, serta pelatihan, setiap MIC punya titik sasaran sendiri dalam melakukan pengembangan. MIC UGM misalnya lebih berorientasi pada pengembangan produk yang bisa memudahkan sistem operasi dunia usaha. Sementara MIC ITB lebih fokus pada pengembangan fondasi teknologi, seperti pengembangan alogaritma.

Perbedaan itu, kata Risman Adnan ISV lead developer platform evengelism Microsoft Indonesia, bukan masalah. "Justru itu nanti bisa saling melengkapi. Misalnya ITB kuat di fondasi teknologi sementara UGM kuat di inovasi produk. Kalau keahliannya seragam justru tidak bagus," katanya di Bandung beberapa waktu lalu.

Pihak Microsoft berharap, MIC itu nantinya bisa berkembang jadi pusat-pusat pengembangan piranti lunak di Indonesia. Setia MIC juga didorong untuk bisa menopang dirinya sendiri. Dalam rangka itu, MIC UGM misalnya sudah mulai mengerjakan proyek-proyek berbayar.

Sejauh ini, MIC itu belum memunculkan karya yang istimewa. Namun pihak Microsoft yakin dengan potensi-potensi sumber daya manusia yang ada.

Lahirnya karya besar dan istimewa mungkin memang butuh waktu. Bagaimanapun, keberadaan sejumlah MIC itu sudah terasa manfaatnya bagi beberapa mahasiswa. Simaklah kisah seorang anggota MIC UI dalam blognya di http://geeks.netindonesia.net/blogs/sagiarsyad. Anggota itu menulis, "Microsoft Innovation Center UI (MIC-UI) merupakan suatu fasilitas yang membantu mahasiswa dalam proses belajar, salah satunya belajar ketika ujian akhir semester... Di sini kita mempunyai komunitas yang membantu mahasiswa lain dalam proses belajar.... Kami sering kali buka 24 jam sehari kalau yang namanya deadline tugas semakin dekat...Ketika deadline di depan mata, lab merupakan rumah kedua."



Sumber : Kompas

0 komentar:

Komentar


 

Didamel Ku Asep Moh. Muhsin | Persembahan dari Cianjur Blogger Community (CBC)